Islamic Centre Ikon Sebagai Tempat Peradaban Islam
POTRET hitam Kramat Tunggak di Jakarta Utara sudah berubah. Lokasi yang dihuni penjaja seks dan mucikari pun sudah lenyap. Wanita penjaja seks pun sudah meninggalkan lokasi itu. Kisah-kisah pembunuhan dan penjambretan pun menjadi kisah masa lampau.
Kramtung pernah dihuni oleh 1.615 wanita tunasusila, 258 germo, 700 pembantu pengasuh, 800 pedagang asongan, serta 155 tukang ojek dan tukang cuci. Lokalisasi pelacuran yang sudah ada pada tahun 1970-an itu telah lenyap dari tanah Kramtung. Yang ada sekarang ini adalah bangunan Jakarta Islamic Centre yang berdiri megah dengan sebuah bangunan masjid yang anggun. Boleh dikata, perubahan yang ada bak bumi dan langit.
Muazin Perlu Diberi Pelatihan
Muazin, orang yang bertugas mengumandangkan azan, merupakan salah satu instrumen dalam suksesnya dakwah Islam. Untuk itu, seperti halnya khatib dan imam, muazin juga perlu diberikan pelatihan yang dapat meningkatkan kualitas profesinya itu.
Pernyataan ini disampaikan Darmi AR, Seksi Dakwah dan Pendidikan Jakarta Islamic Center (JIC) kepada hidayatullah.com belum lama ini. “Profesi muazin bukanlah profesi yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Penuh atau tidaknya satu masjid dapat pula dipengaruhi oleh muazin yang bertugas mengumandangkan azan,” kata Darmi.
Globalisasi Sebabkan Pergeseran Nilai
Hidayatullah.com--Arus modernisasi yang semakin deras membawa dampak terhadap bergesernya nilai-nilai keislaman yang selama ini dipegang kuat oleh kaum Muslimin. Hal ini dikatakan KH Zulfa Mustofa, ulama Jakarta Utara dalam tabligh akbar 1433 Hijriah yang digelar Jakarta Islamic Center (JIC), Ahad (5/2/2012) pagi.
“Telah terjadi pergeseran nilai di Jakarta Utara. Dulu, di daerah sini, mudah sekali ditemukan remaja-remaja yang bisa membaca kitab berbahasa Arab. Sekarang sulit sekali menemukannya,” kata Zulfa.
Mendekati Perbedaan, Bukan Menyatukan
Seminar “Mutiara-Mutiara Al-Qur'an dalam Kemelut Kekinian“ yang berlangsung pada Selasa, 31 Januari 2012, di Ruang Audio Visual Jakarta Islamic Centre (JIC), dihadiri lebih dari 300 orang yang terdiri atas ulama , asatiz, asatizah, pejabat di lingkungan Pemprov. DKI Jakarta, Kepala KUA, dosen, dan mahasiswa memberikan banyak informasi yang berharga. Misalnya saja, isi makalah yang disampaikan oleh salah satu narasumber, KH Dr Muchlis M Hanafi MA.
Al-ASMAUL HUSNA
Salah satu wirid yang diamalkan oleh kaum muslimin yang bersumber dari Al-Qur`an dan juga Al-Hadits adalah wirid Al-Asmaul Husna. Di antara landasan untuk menjadikan Al-Asmaul Husna sebagai wirid adalah firman Allah SWT di surat Al-`Araf ayat 180,” Hanya milik Allah asmaa-ul husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al-asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya manti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”










